PERISTIWA PENYENDU “melankolis”


Kalai ini saya berbagi cerita pendek buat semua, tidak peduli manusia atau bukan, Entah kapan ini di buatnya, dan saya harap. Anda terbawa sejenak dalam alur, yang terkesan hambar, karena saya tak berpengalaman menulis tentang cinta, entah ini cinta atau bukan. Tp saya yakin anda pasti terkejut. Dan ingat jang meloncati setiap katnya. Jika anda ingin. Mengikuti irama cerita ini. Cekidot teman…!!!

seminggu sudah aku berada di ruangan
ber AC ini ruangan yg
selalu membuatku kedinginan di mata yang terus saja tak bisa
ku
buka. Aku tetap tersenyum mendengarkan suara-suara
penyemangat sahabat-sahabat yang selalu membawaku
dalam
alam yang damai, walau terkadang ada sedikit konflik yang tak
mudah di selesaikan. Di balik kelopak mataku aku terharu oleh
sosok yang
aku kenal suaranya. Diya kah malaikatku?
Yang berkata. “aku
selalu menemanimu di kala kau membutuhkanku, dan aku pergi di
kala kau tak
Membutuhkanku” lalu aku mulai menangis haru akan suara itu. Aku
kenal dengan
suara yang datang di saat aku mulai putus asa. ialah malaikatku?
yang selalu hadir di mimpi burukku “sigit” aku tersenyum
walau sakit yang ku rasa melebur menjadi satu dalam tubuh ini
yang sepertinya semakin kurus. Mengapa ia
selalu datang dalam keadaanku yang sedang membutuhkan
sosok
malaikat?.. Aku bertanya pada sisi kelam di balik kelopakku dan
berusaha membukanya demi melihat sosok yang ku benci yang
selalu membuatku gemas akan tingkahnya yg aneh. Mataku mulai
memicing
terbuka dalam ruangan bercahaya terang seperti petromak
yang baru saja di hidupkan, hadirlah sosok itu. Hatiku
prihatin. Kenapa mukanya pucat?
“..Ka…mu se..dang sak…it?”..dengan terbata aku bertanya
kepadanya
“Sedikit tidak enak badan saja.” Sambil tersenyum.
Senyuman itu membut siapa saja akan binasa di buatnya.
senyuman sengregek ala orang-orang modus yang sering
menggona cewek-cewek yang sedang nongkrong di cafe-
cafe
dengan pakaian minim.

“Apakah aku terbentur..? Keadaan itu membuatku ingin
tertawa
keras, Senyuman hidung belang yang sering di lontarkan om om
pada gadis-gadis sma.
“Aku rindu senyummu,,alvinda.”
“Kenapa..apakah ada yang salah dengan senyumku.?”
“Tidak…..” Diya sambil terbahak.
Dasar orang gila. Kataku dalam hati.

Tiga hari berikutnya aku sudah mulai pulih dengan melakukan
kegiatanku sehari2
meskipun dengan rasa sakit ini yang sedikit rewel ingin di
gendong.
Sepertinya aku semakin membaik
Setahun kemudian aku lulus dan mengejar mimpiku menjadi
arkeolog yang mencari-cari sesuatu berdasarkan benda-benda
mati., mungkin bodoh bagi sebagian orang dan bodoh pula yang
mengatakan demikian.
“Hore..” aku di terima di salah satu universitas ternama di
kotaku.

Hari hariku bahagia yang di temani dengan sepeda motor
maticku yang aku konsep klasik.
Tak apsen setiap hari aku berbicara kepada bintang-bintang
yang berkedip di atap rumahku. Aku berharap tak akan jatuh
dari
sini, Aku hanya apsen jika langit yang sepertinya marah,
melempari atap rumahku dengan butiran-butiran air yang
membuat atapku berteriak kencang.
di atap ini. “Hmm” aku selalu tersenyum.
” Hah tersenyum” Kemana
sosok itu, kenapa tak lagi aku temukan? Bagaimana kabar diya
sekarang?.
Aku mulai turun, dan melemparkan badankudi kasur single bad,
kamar
bintang 2 ku.
Aku tiba-tiba memikirkan diya melulu. Besok saja
lah aku mencarinya.
Pagi begitu riuh dengan bunyi klakson di depan rumahku yang
saling
sersaut sautan seperti aku yang sedang bermain tenis meja.
Dasar mobil. Mentang mentang mobil seenaknya membunyikan
klakson yang membuatku kaget.
Suasana sunyi pagi di Jalan tn.sucipto bandung yang
sepertinya masih tertidur pulas di ahir pekan yang dingin, aku
meneruskan menggilas aspal dan memutar batang di tangan
kananku, dan meliuk-liuk seperti sedang tes SIM di kantor
polisi, tapi di sini tidak ada korupsi.
Tulang terasa mulai nyilu dengan ketokan berbelas kali yang aku
pukulkan di pintu reot indekos nina yang mungkin aku tendang
akan rubuh. “Dasar kambing masih belum bangun saja dia..
Suasana enam pagi ketokanku semakin keras yang memecah
kesunnyian dan di bantu burung gereja dan suara sapu lidi di
perkampungan perbatasan jakarta-depok.
Ahirnnya nina bangun dan membukakan pintu untukku.

“Nin..”
“Hmmmm” sambil menunduk, wajah lucunya mungakin dia sedang
kesal
“Kamu tahu di mana sekarang sigit?”
“Buat apa kau mencari diya vin?”
“Aku hanya ingin memastikan, dan melihat seperti apa dia
sekarang”
“Aku juga tidak tahu vin” sambil merebahkan kembali tubuhnya.
mungkin dia kesal karena kedatanganku kemari hanya untuk
menannyakan seseorang yang tak pernah ia kenal dekat, dan
membangunkannya di musim dingin, musimnya para beruang
untuk tidur nyenyak hingga musim semi.

empat tahun kemudian saat aku lulus aku menemukan info ternyata
diya sudah menikah 5 tahun yang lalu. Ya sudahlah mungkin diya
sudah bahagia.
Aku mulai mencari-cari pekerjaan, melamar kesana-sini tak di
pangil pangil juga. ‘Ahh’ Mungkin tak ada lagi perusahaan yang
membutuhkan jasa
sang arkeolog yang mencari hal berdasarkan benda mati.
Kecuali
itu perusahaan yang mengumpulkan fosil-fosil dinosaurus dan
manusia purba. Tapi mana ada perusahaan seperti itu.!
Aku terbangun, akibat bunyi telfon yang membuatku terhenyit
dari alam mimpiku. Aku segera berlari dan segera mengapai
suara itu Dari
pintu kamarku terlihat tangan yang sudah mencabut bunyi itu
dan mulai berbicara.” Hmmm” aku kira pangilan kerja. Harapanku
sirna.

Beberapa bulan berikutnya aku mendapat aplop yang berisi
panggilan
kerja. Di kalimanntan yang membutuhkan tenagaku untuk di
perusahaan batu bara yang sedang mulai membangun dan
sedang mengekploitasi sumber batu bara yang masih ada. Hah
3 hari yang akan datang. Wah
sebentar lagi aku akan terbang ke sana.
Aku pamit ke sahabat-sahabat seperjuangan dulu yang sudah
kebanyakan menikah.

delapan tahun kemudian aku pulang karena cuti. Aku bersama suamiku
saat ini.
Aku tiba-tiba terfikir sosok dulu yang sering menyemangatiku
ternnyata dia yang mendonorkan ginjalnya untukku, kemana dia
sekarang.
Bagaimana kabar diya?

Aku mulai mencari info lagi tentang keberadaannya. Aku tanya
ke teman-temannku dan tak ada yang tahu juga. Kemana diya
ya.?
Kemarin ibu berkata ada seseorang yang mencariku. Siapa diya
apakah sigit. Tapi tak mungkin Bagaimana ia tahu rumah baruku
ini. Aku tak pernah mengabarinya. Ternyata diya
meningalkan nomor telfon kepada ibuku.
Sepertinya penting siapa diya? Aku menelfonnya suara
cowok
yang mengaku bernama alvin dan mengaku mengenalku meskipun
tak pernah bertatap muka denganku. Aku menemuinya
di salah satu cafe di kotaku ini. Aku melihat sosok yang sedang
duduk di pojok cafe ini. “Hmmm” seruku,
ternya anak remaja. Sedangkan aku sudah kepala 3. Apa yang
diya tahu tentangku bagaimana diya kenal dengannku? Ada
hubungan apa denganku?

“Bagaimana kau tahu rumahku nak.” Aku mmbuka pembicaraan

“apa yang tak bisa di ketahui saat ini..dengan tehnologi yang
moderen” tegas anak itu

“Ada perlu apa nak. Menemui ibu. Sepertinya penting?”Aku bertanya lagi

“Apakah seseorang yang ingin bertemu selalu penting?”Dengan memandangku sinis penuh maksut

“Ya jelas, apa lagi bertemu sosok yang tak pernah kau kenal
sebelumnya.!” Aku membalasnya dan tatapanku yg tajam ka arah anak itu
.

“Aku hanya ingin tahu saja, sosok yang sering di ceritakan sigit
padaku”
seru alvin lagi

Tak heran sigit mempunya teman remaja seperti ini. Dia selalu
bergaul dengan anak-anak kecil dahulu.

“Ohhh kamu teman sigit..?” Denga tegas kembali ku bertanya

“Bagaimana kau berani berbicara. Orang yang mengenal sigit itu
adalah temannya.”Sanggah anak itu

“Ya begitulah yang selalu ada..ada perlu apa nak Kamu tahu
sigit sekarang di mana.” Seruku dengan, tatapan tajam yang menunggu jawbnya

“Iya tahu.!” Jawab alvin denga singkat

“Bisakah kau mengantarku kesana?”Tanyaku

“Itulah..tujuanku menemuimu.” Jawabnya dengan santai dan senyum simpul

Ahh dasar anak kecil. Selalu saja bertele-tele.
Kami mulai berjalan meyusuri jalan-jalan yang tak pernah aku
lewati sebelumnya..tempanya menanjak.
Mungkin sigit mempunyai fila di pegununungan ini.
Jalan semakin sempit hingga mobil BMWku tak bisa
memasukinya.
Aku terpaksa berjalan kaki dengan mengambil sepatu but yang
sering aku
gunakan di proyek ekploitasi di kalimantan.. Kemanakah aku
akan di bawanya. Sepertinya ini sudah tak wajar.
Tak tergambar seperti apa sigit sekarang. Seperti apa
wajahnya, seperti, apa rumahnya. Ku yakin pasti rumahnya
sangat indah. Masih ku ingat opsesinya soal rumah di alam
terbuka. Rumah terbuka di tengah hutan.

“Kita ke rumah sigit kan nak.?” Tanyaku dengan penuh harap

“Mari buk.!” Ajak alvin.
Debu di sepatuku semakin bertambah tebal. Di sepanjang jalan
setapak menuju ke arah padang rumput yang semakin luas.
Cahaya matahari sore, membuat suasana menghening remang.

Seketika aku berjalan lebih cepat hingga mendahului alvin, lalu ku
hentikan langkahnya. Aku tak kuasa lagi menahan ungkapan
hasrat semenjak aku bertemu dengan alvin. Air mataku
membasahi tanah rumah terahir sosok yang menyemangatiku
dulu aku bangkit pergi menjauh beberapa meter dari makamnya
lalu tertunduk meremas rambutku. Aku belum sempat
berterimakasih atas ginjal yang aku gunakan saat ini, dan
meminta maaf atas aku dahulu yang sangat begitu acuh
kepadanya.

“Meningal satu bulan yang lalu. Sakit komplikasi gagal ginjal.”
Ucap alvin datar dari belakang.

“Apa saja yang kamu dengar dari sigit.?”Dengan mata berkaca-kaca aku bertanya

“Itulah alasan mengapa saya menemui ibu.”
Sebelum beliau
meninggal, beliau sempat berpesan supanya memberikan ini
pada ibu” alvin menyodorkan sebuat gelang yang selalu hendak
ia
berikan dahulu kepadaku oleh sigit. Tapi aku selalu menolaknya.

Aku mengambil pemberian itu dan memakainya di tangan kiriku.
Dengan tetesan air mata yang semakin mengering dari
papriknya.
Lantas alvin tersenyum dan membelai batu nisan itu sembari
berbicara sendiri kepada tanah di bawah kakinya.

“Papa. Ibu alvinda datang, sosok yang selalu papa ceritakan. Dia
ada di sini….!!!”

Iklan

2 thoughts on “PERISTIWA PENYENDU “melankolis”

  1. Penempatan titik koma tidak teratur . Jangan terlalu memperbanyak perumpamaan untuk mengutarakan suatu kejadian , kesanya melenceng kalo terlalu banyak .
    GWS coretanmu teman !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s