Sejarah gunung kelud


16 februari 2014
By: Sigit Irawantoro

Kali ini mari membaca 🙂
Sejarah gunung kelud, yang saya rangkum sedemikian rupa, semoga saja enak di baca, Pasti enak di baca lebih tepatnya. Mari di simak sekikas pengetahuan saja 🙂

Ketinggian gunung kelud 1.731 m (5,679 kaki)

Geologi
Jenis: Stratovolcano
Sirkum: gunung api Cincin Api Pasifik
Letusan terakhir 2014 (masih berlangsung)

Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi Kelut
yang berarti “sapu” dalam bahasa Jawa adalah
sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia,
yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara
Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten
Malang , kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri. Bersama dengan Gunung Merapi, Gunung Kelud merupakan gunung berapi paling aktif di Indonesia. Sejak tahun 1000 M, Kelud telah meletus lebih dari 30 kali, dengan letusan terbesar berkekuatan 5 Volcanic Explosivity Index (VEI).Letusan terakhir Gunung Kelud terjadi pada hari kamis kemarin lusa (13/02/2014)

Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia.
Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah
(hingga akhir tahun 2007) Akibat aktivitas tahun 2007 yang memunculkan kubah lava, danau kawah nyaris sirna dan tersisa semacam kubangan air.
Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari
letusan besar masa lalu. Puncak Kelud
adalah yang tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah.
Puncak-puncak lainnya adalah Puncak Gajahmungkur
di sisi barat dan Puncak Sumbing di sisi selatan.

Catatan aktivitas Gunung Kelud
Gunung Kelud 1901
Gunung Kelud 1919

Sejak abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban
lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun
1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa.
Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada
tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990.
Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini. Memasuki abad ke-21,
gunung ini erupsi pada tahun 2007, 2010, dan 2014.
Perubahan frekuensi ini terjadi akibat terbentuknya
sumbat lava di mulut kawah gunung.

Letusan 1919
Letusan Gunung Kelud tahun 1919 tercatat dalam laporan Carl Wilhelm Wormser (1876-1946), pejabat Pengadilan Landraad di Tulung Agung (masa kolonial Belanda), yang menjadi saksi mata bencana alam
tersebut.Disebutkan, pada 20 Mei 1919 siang, tiba-tiba langit gelap. Hilangnya matahari membuat semua yang hidup menjadi takut dan gentar. Hujan abu dan batu yang turun. Para penduduk desa di lereng gunung berusaha menyelamatkan apapun yang dapat diselamatkan: harta dan jiwa dan hewan peliharaan. Semuanya berlarian
menghindari kekerasan alam. Lari! Lari kemanakah dirimu? Bernafas semakin sulit. Udara semakin mencekik semua yang bernafas. Bunyi desiran semakin dekat dan kuat. Aliran lahar menghancurkan semuanya dan mengganggu jalan keluar untuk manusia. Bangunan dan pepohonan besar patah menjadi kecil-kecil bak korek api. Kawah memuntahkan lahar dan abu dan disertai awan gas beracun. Hutan, tanah dan sawah ditutup kain kafan
berwarna abu-abu. Belasan desa raib dari peta bumi.
Ribuan korban jiwa dikubur hidup-hidup.
Letusan ini termasuk yang paling mematikan karena
menelan korban 5.160 jiwa , merusak sampai 15.000 halahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km,
meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan
lahar pada tahun 1905. Selain itu Hugo Cool pada
tahun 1907 juga ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik. Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan. Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran Ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar
tetap 2,5 juta meter kubik.
Letusan 1990
Letusan 1990 berlangsung selama 45 hari, yaitu 10
Februari 1990 hingga 13 Maret 1990. Pada letusan ini,
Gunung Kelud memuntahkan 57,3 juta meter kubik material vulkanik. Lahar dingin menjalar sampai 24 kilometer dari danau kawah melalui 11 sungai yang berhulu di gunung itu. Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik. Proses normalisasi baru selesai pada
tahun 1994.

Letusan 2007
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September
2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun
yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau
kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status “awas” (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.
Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud
kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan
peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan
vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan. Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus “tumbuh” hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa.

Letusan tahun 1990.
Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi
semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi “siaga” (tingkat 3).
Danau kawah Gunung Kelud praktis “hilang” karena
kemunculan kubah lava yang besar. Yang tersisa hanyalah
kolam kecil berisi air keruh berwarna kecoklatan di sisi
selatan kubah lava.

Hormat saya
SIGIT IRAWANTORO
Follow on twitter @sigitirawantoro

Baca juga:
Suasana yokyakarta ‘abu vulkanik’
suasana Tulungagung ‘abu vulkanik’
Suasana kota blitar ‘abu vulkanik’
kota surabaya ‘abu vulkanik’
kota pasuruan,bangil ‘abu vulkanik’

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

4 thoughts on “Sejarah gunung kelud

  1. […] Sekian dulu mengenai daerah Tulungagung foto di bawah di ambil pada hari jumat (14/02/2014) sekitar pukul 08:00 WIB. Dan tunggu update selanjutnya saya melakukan ekspedisi hitam ‘akibat abu vulkanik’ dan bakti sosial mengunjungi korban yang mengungsi di daerah Tulungagung akan di update teman Salam hormat dari saya, tolong di share teman-teman SIGIT IRAWANTORO Baca juga: Suasana kota blitar ‘abu vulkanik’ kota surabaya ‘abu vulkanik’ kota pasuruan,bangil ‘abu vulkanik’ Sejarah gunung kelud […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s