Pentingnya menjaga kepercayaan orang lain!


25 februari 2014
By: Sigit irawantoro

“Sebelum pohon itu tinggi tanpa penopang dan akan membuatnya patah, kau harus menyiapkan penopang itu untuknya”

Mari Teman kita membahas tentang kepercayaan.
Yang sering kita pegang dari omongan-omongan yang terkesan ‘gampang’.

Suatu kepercayaan yaitu, suatu amanat yang telah di berikan untuk kita.
masalah kita itu untuk melakukanya dan memengangnya atau tidak tetapi yang akan menanggung akibat tersebut, kembali terhadap kita sendiri “karena sudah tidak di percaya lagi” karena perbuatan ceroboh kita. Dan hanya satu kata yang bisa kita ucap “MAAF”

Cewek: Coba jatuhkanlah gelas itu!
Cowok: sudah!
Cewek: coba katakan “maaf” pada gelas itu!
Cowok: sudah!
Cewek: apakah gelas itu kembali lagi utuh?

Begitulah pentingnya kepercayaan, jaga baik kepercayaan orang, yang memberikan atau mempercayai anda, lakukan etikat baik, yaitu menjaga. Menjaga kepercayaan itu, agar tidak pecah, dan akan membuat anda mengeluarka hanya kata maaf. Sangat bodoh bukan.! JAGALAH TEMAN agar tak ada pihak yang tersakiti

Yok mari di ibaratkan saja.
Kita balik sekarang, bagaimana kalau si cewek yang salah.

Suatu ketika ada pasangan cewek dan cowok sahabat yang sudah lama, mungkin saling suka. Tapi mereka berkomitmen “kalau di antara mereka tidak akan pernah ada komitmen” Suatu hubungan yang indah, saling mengisi, saling berbagi, dan seketika pula si cewek tiba-tiba cuek, entah karena apa, tidak dapat di jelaskan.
Si cowok. Mencoba mengerti, dan melanjutkan hubungan persahabatan yang baik. Tetapi tetap ada ke cuekan yang di lakukan si cewek, dan si cowok kembali mencoba mengerti, lanjut lagi melakukan suatu hubungan yang harmonis dengan hambar tanpa senyuman si cewek, si cowok tersebut tetap mencoba mengerti. Tapi di ibaratkan “seaua itu ada batasanya” termasuk kesabaran si cowok. Dan si cowok menegur kecil yang cenderung panjang lebar. Alhasil si cewek tetap tak dapat menjelaskan, kenapa dia cuek, lalu si cowok memilih untuk mundur dan meningalkan kesakit hatianya. Dan mencoba tenang dengan merespown “pasif” sapaan si cewek, sampai si cewek bisa menjelaskanya kenapa dia cuek. Tapi tetap tak bisa, “alasan labil yang dia lontarkan” si cowok mencoba melupakanya, dan kembali mengingat sudah lama mereka bersahabat baik, dan tak pernah ada tengkar, ahirnya mereka kembali bersama dalam ikatan sahabat.

Lama-Lama-Lama.!

mereka saling jatuh cinta ternyata, dan mereka berdua sudah tahu akan perasaan masing-masing. Si cowok berharap, bukan komitmen pacaran yang ia inginkan melainkan rumah tangga yang harmonis yang akan mematahkan komitmen masa remaja mereka, dan dalam komitmen itu. Mereka bertahan dalam lingkaran komitmen, “kalau di antara mereka tak akan ada komitmen”

Dengan senyum, mereka mengatakan cinta
Dengan tatapan, mereka mengatakan cinta
Dengan do’a, mereka mengatakan cinta
Dengan mimpi, mereka mengatakan cinta

Mereka menjalani hidup dengan gurauan-gurauan kecil. Senyuman dan tawa, serta do’a yang mengiringi.

Si cowok percaya terhadap si cewek, dan juga sebaliknya!

Lalu tiba-tiba si cewek mendedikasikan dirinya terhadap orang lain.
Hati si cowok hancur, tapi si cowok tetap merenungkan. Akan semua harapan, mimpi, dan doa mereka, si cowok berfikir “mungkin dia ingin bermain-main”si cowok coba mengerti, dengan senyum. Dan tanpa ikut campur dengan hal itu.
Dengan tetap tersenyum si cowok. Membangkitkan harapan-harapan kepada si cewek. Motivasi-motivasi ulung, dan memberi semangat yang membuat si cewek. Bergairah akan mengerjakan tanggungan hari-harinya yang wajib untuk di selesaikan (tugas-tugas sekolah) si cowok berusaha membantu semaksimal mungkin akan itu. Dan tetap tersenyum. Tanpa membahas hal tabu di belakang itu “tersenyum dalam tangis”

Terus-terus-terus…! mereka saling mengisi

Dan seketika waktu ternyata menjawab semuanya.
“Semua ada batasnya” termasuk kesabaran dan “senyuman dalam tangis”

Si cewek kembali mendedikasikan dirinya berhubungan dengan orang lain.

Si cowok diam.?
Dan berfikir.?
“Mungkin sebaiknya aku tak banyak berharap”
dengan tetap tersenyum dan kembali ke masa itu, dimana si cowok merespown pasif sapaan si cewek.

Lalu si cewek sadar.
Dan si cowok tau. Kalau yang di dedikasikanya dengan diri si cewek itu adalah sebatas teman.!

Tetapi, di situlah letak kesalahanya.
“Si cewek tidak berusaha menjaga kepercayaan si cowok, dan selalu menganggap si cowok sangat dewasa untuk mengerti”

Hal yang di sesalkan oleh si cowok.
“Kenapa ia tak berusaha menjaga perasaanku?”

Kembali lagi “waktu yang menjawab” 🙂

Salam sobat
SIGIT IRAWANTORO
Follow admin on twitter ya 😀
@sigitirawantoro

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

21 thoughts on “Pentingnya menjaga kepercayaan orang lain!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s