Kekecewaan!


06 maret 2014
Sigit irawantoro

Teman mari kita membahas perasaan yang sering kita rasakan, “kecewa” “Terhadap diri sendiri tepatnya”
Bagaimana sih rasanya orang yang kecewa. Mari di intermezokan 😀

Aku berdiri tegak di tengah pilar yang sudah berdiri hambir ½ abad, meraung jauh sampai menembus gendang telinga jauh hampir 2 kilometer, sejenak ku berlari kecil menghampiri pilar kebesaranku, meminta sedikit omelan yang siap aku tampung di di otaku yang akan berjalan secara harfiah tegak, di tengah prinsifku.

Aku…!
Ku menatap sayu panji itu, dengan seksama merangkulnya, membawanya melayang jauh di atas kesetaraan semua yang ada, ku beri dia bekal ocehan pertanda ku memperdulikannya, satu hal yang selalu harus ku ingat, kembalilah kesini darahku.

Yang terlah gampang keluar akibat!
Luka sayatan yang dalam, pekat!
Darah kembali mengalir akibat!
Koyakan pisau yang berkarat!

Iya begitu mengispirasiku, dengan sejuta pengetahuan yang menbawaku akan terbang jauh mengelilingi jakarta pada umurku yang ke 18 “jakarta city tour” hadiah buku yang katanya.

“Aku tak perlu membawamu bermain di dunia kejam metropolitan yang jahat akan alamnya, kau cukup hanya membacanya, yang akan membawamu jauh lebih tau daripada yang sudah lama hidup disana. Aku tak bisa memberimu apapun, kecuali pengalamanku! Memberimu celoteh hangat yang akan menjagamu, aku bukan cecunguk yang merayumu dengan gamblang.”

Tapi ku yakin ku kecewa dengan keceroboku yang masih asik membawaku bermain-main.
Ku rindu kata-kata bodoh itu. Aku terlalu mudah menyimpulkan bahwa dirinya tak suka cinta, tapi kembali ia berkata.

“Aku bukan mengangap cinta itu bodoh-pembodohan, tetapi kau ini cintaku yang ke 4, setelah Tuhan keluarga dan teman, sehingga aku gampang membuangmu!”

Aku tersendu, aku kira ia tak percaya akan cinta, aku tau ia idealis dan realistis, pribadi yang tak akan ku temukan di diri manapun. Sikap tegasnya, sikap nyatanya. Yang membuat aku meneteskan air mata sampai beberapa hari untuk berfikir, kenapa aku bisa menangis selama ini. Bukankah iya tak pernah memanjakanku membelaiku, Tapi ia selalu ada untukku!

Aku kembali tersendu-sendu setelah beberapa hari aku mengacuhkan kepercayaanya,!
Apa yang iya sedang kerjakan sekarang?
Apakah aku pantas tahu?

Kurasa aku masih pantas! Aku tetap menunggumu,
Tapi iya begitu acuhnya akan prinsif idealisnya.
Aku sudah berulangkali melakukannya, apakah iya pernah membuatku sesakit yang aku tusukan ke dia. “Kurasa tidak!”

Lalu bagaimana dengan nasipku.?
Aku rindu akan omelan-omelannya. aku rindu akan kejailannya, yang sering mengejekku mengocok isi perutku, yang katanya ” eh tai lalatmu pindah!”
Ah mana bisa tai lalat pindah?
Aku bodoh, aku kecewa!
Kenapa aku lakukan ini kepada dirinya, akupun juga tak tahu!
Aku masih ingat janjinya, ia akan pulang dari ekspedisi sejarah merah 89-nya membawakanku abu vulkanik.
Tapi aku terlanjur menguburnya di sana, di balik abu-abu vulkanik itu. Iya berkata mengurungkan kepulangannya dari ekspedisi itu.

Apa yang kuperbuat?

Sehingga ia sekarang di sana. Tak kembali katanya!
Aku tak bisa melihat senyumnya lagi!

Apa yang ku perbuat?
Kembali ku tersendu dalam kekecewaanku ini!
Apakah aku berani mengatakan perasaan ini kepadanya, aku tak bisa tanpanya sepertinya ialah sayapku.!

Aku bagai merpati yang kehilangan kemampuan terbangnya, setelah kehilangan sayap!
Aku mawar putih yang memaksanya membuatku merah akan lumuran darahnya.
Dan dia hilang!

Aku akan berusaha membuatnya kembali, walau dengan cara mengumpulkan bola naga dragon ball. Dari 7 penjuru alam semesta. Yang akan aku jelajahi demi kekembaliannya kepelukanku, memintanya menggalikan abu-abu vulkanik yang telah menguburnya. Aku akan meminta kepada naga itu!
Tapi mana bisa ini dunia nyata bukan kartun.
Aku ingin memeluk erat tubuhnya. Aku mengatakan, aku tak bisa hidup tanpa sayap, tapi ia malah berkata, aku juga bisa kalau hanya berkata!

Apa maksud dari pernyataan itu?
Apakah aku harus mengalinya sendiri, abu-abu itu. Atau meminta angin meniupkan badainya untuk menjauhinya, aku harap setidaknya iya tak mati karena kehabisan oksigen di dalam sana. Tapi aku cukup tahu, ia sangat kuat walah mustahil untuk bisa hidup lama di bawah kuburan abu vulkanik!

Apa?
Apa?
Apa yang harus aku perbuat?

Kekecewaan tetaplah kekecewaan
Aku bodoh memang
Aku dunggu memang
Aku ceroboh memang

setelah lama aku kenal, inilah yang paling murka

Iya memang
Aku akui aku bodoh memang

Aku harus bagaimana Tuhan?

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

6 thoughts on “Kekecewaan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s