satu kata, satu nama, seribu makna!


Suara berisik dari bunyi air yang menghantam genteng rumah tua, membuat mataku terpaksa terbuka dan menyadari cuaca yang tak memungkinkan untuk aku pergi ke sebuah kediaman seseorang, yang akan aku antar ke sebuah gedung yang di dalamnya banyak berkumpul manusia yang sedang sakit.

“Hallo, Alvinda.! Bagimana? di sini masih hujan.!” seruku memiciming menunggu jawaban
“Tunggu hujan reda saja.!” sahutan sinkat ala skeptis gila
“Ya sudahlah, tidak apa-apa kan” mohonku tersendu
“Iya, tidak apa-apa” kata dia
“Ya sudah sampai bertemu nanti vin” harapan, memohon, berdoa
“Iya” singkat skeptis terulang
“Tuut” suara telefon yang mati.

 Setelah aku menunggu hilagnnya rintikan yang seolah marah pada diriku hampir dua jam, ahirnnya hujan berhenti memberiku kesempatan tersenyum sinis

Aku bergegas mengambil helem membuka gerbang samping rumah, mengeluarkan sepeda motor tuaku yang selalu setia mengantarku ke sudut-sudut kota bandung yang walau setiap hari di hujani polusi yang selalu membuatku sebanyak-sesak.

Aku melaju melewati menggilas aspal menghamburkan de-daunan kering semakin kesamping, jalan setiabudi! ku berbelok ke arah Geger Kalong, memasuki sebuah gang di daerah ini, perlahan motor tuaku melaju meliuk-liuk bak lolercoster yang sudah di siapkan jalur yang tak 99 melompat, memasuki gang sempit yang hanya bisa di lewati oleh satu buah becak  “Ah, dasar kau vin punya rumah kok di sini” aku mengerutu dingin sembari sambi tetap melaju meliuk ke-kediaman alvinda. “Ciiiit” suara motor tua yang meng-erem tepat di depan rumah alvinda dan pandangan alvinda, dengan alvinda yang sudah siap menungguku sedari tadi di teras depan sambil mengenakan celana hitam dan TS BURGERKILL yang juga hitam, tas canglong coklat tua dan balutan slayer sebra di leher menambahkan kesan antik terhadap sosok yang satu ini, yang selalu membuatku meleleh, di tambah jaket kulit coklat dan sepatu cad panjang coklat. Dengan di rambut terurai lepas, yang membuatnnya semakin menakjubkan.

“Heh!! kesurupan sore-sore begini melamun kau ini” aku memecah lamun-nya dan ia lalu berlari kecil ke arahku.
“Ayo cepat naik atu teh”
“Okay” alvinda menjawab, sambil tersenyum, dengan senyuman yang membuat siapa saja akan meleleh di buatnya.bak milkshark susu coklat

motor keluaran tahun 96 ini menunjukan eksistensinnya di tengah padatnnya jalanan yang menyuguhkan bunyi klakson mobil yang bersaut-sautan seolah sedang marah karena terperangkap di antrean deretan mobil yang berjejer dari hilir ke hulu.tapi hanya di jalan ini hilir dan hulu itu ada!

“Vin, kita lewat jalan tikus di depan ya, soalnnya jalan sini…”
“Okay siap” alvinda menjawab pertannyaanku yang belum selesai aku lontarkan.
“ah dasar kau” sinisku terulang

Motorku berbelokan di bantu tuas dua buah tangan penggerak, ke kanan memasuki sebuah gang mawar, dan melaju pelan mengikuti irama jalan sempit yang kumuh akan serakan sampah di sekitar gang. bau khas aroma kotoran sapi yang tak lagi ada sapi di sini, karena rerumputan sudah termakan oleh gedung-gedung penopang langit.

Ahirnnya aku keluar dari labirin yang sempat membuatku mengernyitan dahi meng-ingat-ingat di mana pintu keluarnya,
lalu menuju ke rumah sakit. beta alfa medika

 “026, alvinda” penjaga loker mempanjikan nama yang selalu aku temani hari-harinnya yang ku hias semakin indah, mungkin!.

 Setelah lama menuggu di panjikannya namanya oleh penjaga di depan ruangan praktek dokter adita yang hari itu sedang mempraktekan ilmunnya di sebuah ruangan kotak persegi panjang  ukuran 4×4 meter.

“Keluhannya apa mbak?” tannya dokter adita

“Terkadang ini dok ya, saya pusing tiba-tiba, dan juga, sewaktu saya bangun dari duduk yang lama. Itu langsung pusing dok!”

“Itu sakit kepala sebelah atau, bagaimana?” dokter adita bak menjadi wartawan yang haus berita

“Ya terkadang sebelah dok, tapi kadang juga tidak.” sahutnya sambil meng-elus-elus kepala sebelah kanan.

“Oiya mbak tunggu ya” lalu dokter adita  memeriksa denyut jantung dan tekanan darah alvinda, yang terbilang normal saat itu darah 110 dan tekanan darah yang juga normal 80/90.

“Okay” dokter adita pergi menuliskan isarat, di sebuah kertas resep yang tak dapat aku baca, mungkin itu sebuah sandi suci yang di lindungi oleh kalangan para orang berjas putih.
langkah kecilku menuju sebuah tulisan yang di tunjukan oleh dokter adita “farmasi” tempat persemayaman obat para orang sakit.
“ada yang saya bisa bantu mbak?” dengan logat jawa yang kental, mungkin iya seorang perantau yang sampai ke sebuah kota politik yang tak sejalan dengan rakyat.

“ini mas mau nebus obat dari dokter adita” alvinda menyodorkan panji suci itu ke tangan sang perantau itu.
“di tunggu sebentar mbak ya” dan pergi mengambilkan panji yang tertulis di kertas kecil kira-kira berukuran delapan kali empat centi meter.
setelah mengurusi obat alvinda, yang bagiku begitu rumit dan sudah menghabiskan waktu 4 jam untuk hanya mendapatkan 2 lembar obat saja.
“okay, kita ke tempat kita biasa ya” sambil ku kedipkan mata padannya. Yang di balas dengan senyuman girang, bak seorang sedang mendapatkan hadiah paling menarik selama hidupnnya.

Motor tuaku kembali memasuki jalanan dan mulai unjuk taring di jalan beraspal, suara mesin yang berdengung dan suara aspal yang tergilas oleh ban motor tuaku, jalan yang sudah terurai oleh air hujan yang sempat turun, tadi di saat kami sedang mengurusi dua lembar obat ini.

Suasana perkotaan semakin di telan oleh gelapnya malam, dan semakin kecil untuk di pandang, udara dingin delapan malam mulai mengoyak kulit di balik jaket kulit, yang selalu melindungiku di saat dingin dan panas.

Suasana perbukitan remang, minim akan cahanya yang asri dan sejuk mulai membanjiri mata dan hidung kami, seolah memanjakan hasrat yang sekian lama tak aku puaskan. kami kira sudah tiga bulan tak melewati jalan menuju bukit asri ini, di daerah timur Bandung lautan api.

Alvinda memeluk erat tubuhku dari belakang seolah meminta perlindungan dari serangan binatang buas yang mematikan.

“Okay, kita sampai”

Lalu Alvinda memicingkan mata dari balutan kelopak yang sedari tadi tertutup, dan senyuman itu terulang lagi, yang membuat jantungku semakin berdegup lebih kencang dari pada sang joki moto GP 250cc yang sedang berduel sengit di arena, sedang memperebutkan juara 1. seakan aku meleleh di buatnnya bak eskrim coklat yang sedang kepanasan di bakar oleh sinar cakrawala di siang bolong.
aku mengikuti langkah alvinda yang duduk di tepi bukit yang sedang memandangi bintang yang sebagian besar bersembunyi di balik awan akibat cuaca mendung yang tadi berhasil menyiramkan air ke bumi kota bandung.

“vin, cobalah kamu lihat bintang yang sedang sendirian di sana” sambil mengacungkan telunjung ke arah kanan, dan alvinda mengikuti gerakan tanganku secara seksama.

“di sana” membawa telunjung berpindah dari kanan ke kiri, dan alvinda mengikutinya lagi, “dan disana” menunjuk ujung sebrang de depan tepat pandangan kami. Alvinda hanya bisa menganguk-anggukan kepalannya, aku tersenyum simpul melihat gelagat lucu seperti anak ayam yang sedang di ajari induknnya memilih makanan yang baik dari sisa-sisa jerami di kandang sapi.

“kamu percaya vin, kalau bintang jatuh bisa mengabulkan permintaan kita” sambil memandang bintang itu bergantian dari sisi ke sisi. “dan aku harap malam ini ada bintang jatuh yang memberiku satu permintaan, yang selama ini aku tak bisa wujutkan”

Tiba-tiba bintang jatuh dari sisi sebelah kanan, sungguh keajaiban, yang akan memberiku satu permohonan yang selalu aku ingin wujutkan. Aku memejamkan mata, begitu pula dengan alvinda yang tampaknya tak begitu serius menginginkan, keinginan itu.
“kamu, menginginkan apa vin?”

“oo, tidak, tidak ada yang boleh tahu” sambil terbahak seperti moyet sedang menemukan harta karun yang tersimpan di dalam goa gelap gulita yang baru saja terdapat cahaya yang memberikan jalan menuju makanan tersembunyi itu. “kalau kamu apa?” kembali melontarkan Tanya padaku.

“aku hanya meminta, KEBERANIAN”

“keberanian untuk apa?”

“keberanian untuk……INI”  aku langsung mencium pipi sebelah kiri alvinda.

Dan mengatakan “AKU MENCINTAIMU”

Iklan

5 thoughts on “satu kata, satu nama, seribu makna!

  1. […] Baca juga: membusuk terkapar seperti apa anda mengukir sejarah? pentingnya ke-PD-an cara hidup bahagia iyalah tidak cepat lupa, tetapi cepat melupakan 2 cara hidup bahagia iyalah tidak cepat lupa tetapi cepat melupakan 1 what it’s valentine Antara perasaan dan logika Teman special pulsa gratis cinta itu asik tapi jangan asik bercinta Asal usul rokok pentingnya menjaga kepercayaan orang lain menjadi realistis apa itu idealis? jika bersatu menggunakan kedua tangan, mengapa jika berpisah menggunakan sebelah tangan? ajine rogo soko busono kekecewaan! apa salah jika kita lupa? satu kata, satu nama, seribu makna! […]

    Suka

  2. […] Baca juga: membusuk terkapar seperti apa anda mengukir sejarah? pentingnya ke-PD-an cara hidup bahagia iyalah tidak cepat lupa, tetapi cepat melupakan 2 cara hidup bahagia iyalah tidak cepat lupa tetapi cepat melupakan 1 what it’s valentine Antara perasaan dan logika Teman special pulsa gratis cinta itu asik tapi jangan asik bercinta Asal usul rokok pentingnya menjaga kepercayaan orang lain menjadi realistis apa itu idealis? jika bersatu menggunakan kedua tangan, mengapa jika berpisah menggunakan sebelah tangan? ajine rogo soko busono kekecewaan! apa salah jika kita lupa? satu kata, satu nama, seribu makna! […]

    Suka

  3. […] Baca juga: membusuk terkapar seperti apa anda mengukir sejarah? pentingnya ke-PD-an cara hidup bahagia iyalah tidak cepat lupa, tetapi cepat melupakan 2 cara hidup bahagia iyalah tidak cepat lupa tetapi cepat melupakan 1 what it’s valentine Antara perasaan dan logika Teman special pulsa gratis cinta itu asik tapi jangan asik bercinta Asal usul rokok pentingnya menjaga kepercayaan orang lain menjadi realistis apa itu idealis? jika bersatu menggunakan kedua tangan, mengapa jika berpisah menggunakan sebelah tangan? ajine rogo soko busono kekecewaan! apa salah jika kita lupa? satu kata, satu nama, seribu makna! […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s