Tiga pembunuhan misterius.


Mari kita berspekulasi sejanak
Baca cerpen detektif ini, jantung anda akan terpacu dengan penuh spekulasi gila 😀

Malam masih begitu mulai awal, menjelang Isya’, aku tergopoh-gopoh, berlari menuju ke kantor polisi dengan di temani hujan yang turun rintik-rintik dengan jalan bebatuan yang licin sudah biasa aku lewati, tak ku hiraukan lagi sandal jepit yang malah terpelanting entah kemana, aku tak tahu, dan memang tidak mau tahu lagi. penemuannya baru saja membuatku dan warga sekitar kalang-kabut berlari tunggang langgang menghampiri tempat kejadian perkara (TKP).

Sebuah bangunan sederhana, berwarna dominan abu-abu, hitam dan kuning sudah terlihat. Sebentar lagi sampai. Tidak jauh hanya sekitar 200 meter di depanku. Dengan jarak yang sudah aku tempuh setengahnya, walau lelah tak terkira, tidak ada niatan untuk berhenti sama sekali, justru aku semakin mempercepat langkah kakiku, berlari sekuat tenaga.

Sampai beberapa menit kemudian, di tepi sungai di pinggiran kota. Warga sekitar berkerumun mengerutu tak karuhan, terlihat memang ramai sekali.
Garis pembatas polisi, berwarna kuning bertuliskan Do Not Across, sudah di pasang sekitar tiga meter dari tepi sungai. Layaknya sebuah hiburan sirkus binatang buas yang tidak boleh untuk melewatinya, penemuan mayat perempuan kali ini juga mengundang kerumunan warga Kota Suka Damai.

“Ah,,sepertinya Kota ini malah sudah tidak damai lagi, bagaimana tidak, 1 bulan terahir ini sudah ada tiga mayat ditemukan di tepi sungai yang sama dengan tempat yang berbeda.! Penemuan mayat yang menjadi misteri saat ini.!” aku mengerutu heran bercampur dengan spekulasi-spekulasiku.

Mayat pertama, seorang pria berusia sekitar 45 tahun.
Saudagar kaya kota ini, ditemukan tepat 1 bulan yang lalu dengan bekas jeratan di lehernya. Diduga korban dibunuh dengan menjerat lehernya menggunakan kayu dan bekas pukulan di kepala di duga menggunakan kayu. Tidak ada barang bukti yang akurat, saksi, apalagi sidik jari. Sepertinya pelaku sengaja menghanyutkan mayat ke sungai agar sisa sidik jarinya tidak membekas. Atau mungkin pelaku menggunakan handscoon.

Korban kedua, ditemukan sekitar 2 minggu lalu, di sisi lain sungai ini. seorang guru muda dari Ibu Kota yang ditugaskan ke kota Suka Damai. Guru ini belum genap dua tahun mengajar di salah satu sekolah unggulan di kota Suka Damai ini. Prestasi dan dedikasinya yang terbilang ok membuatnya diamanahi memegang kelas unggulan di sekolah itu. Sayang, satu bulan yang lalu, mayatnya ditemukan dengan bekas pukulan di kepala bagian belakangnya di duga pula menggunakan kayu yang sama dengan pelaku yang sama. Tidak ada indikasi perampokan, karena mayat ditemukan dengan semua yang masih utuh dompet, handpone dan tas.

Dan malam ini, korban ketiga walau di akhir tahun intensitas hujan meningkat dan udara dingin menusuk-nusuk kulit, warga tidak peduli dengan itu. Mereka tetap ingin menyaksikan penemuan mayat ketiga secara langsung wajah mayat perempuan korban pembunuhan sadis.
“Eh itu kan mahasiswi perguruan tinggi negeri Suka Damai, kalau nggak salah dia yang beberapa hari lalu mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa terbaik di acara kelulusan tahunan” bisik seorang warga yang mengunakan tongkat kepada temannya, yang sepertinya memang pincang permanen.

Ya,, korban ketiga, seorang sarjana muda yang baru beberapa hari yang lalu lulus dan mendapatkan predikat terbaik. Kini, jasadnya terbujur kaku dengan pakaian toga lengkap, serta sebuah piagam penghargaan, sebagai lulusan terbaik, melekat ditangannya.
Diduga kematiannya karena tenggelam dan kehabisan nafas.
“Tidak salah lagi ini pembunuh yang sama,lihat saja itu dengan luka memar di leher dan pukulan di kepalanya.” Gerutuku kepada adam teman satu kostku.

“Ya. Aku berfikiran seperti itu juga ran” ucapnya optimis dan sambil membenarkan posisi kaca matanya yang turun.

“Kini, kota Suka Damai mencekam dam!” Ucapku panik kepada adam.

“Ya benar.! Ada sepasang mata yang siap merenggut nyawa orang-orang yang memang dirasanya tidak pantas hidup di dunia. Dan berkarir sukses.! Bagaimana tidak ran ini sudah aneh, mengapa korban adalah orang yang sudah mapan atau menjelang mapan, dengan korban pertama saudagar kaya, kedua guru yang sudah maksimal membuat perubahan, Dan malam ini mahasiswi yang tak sempat pulang dari acara wisuda sudah di habisi. Dengan kejam.!” Ucap adam serius yang membuatku merinding

“Mungkin sepasang mata itu asik menyaksikan peristiwa ini dam.!” Ucapku dengan memandangi satu-persatu penduduk yang turun ke TKP. Sambil menjepretkan kamera Handponeku mengabadikan peristiwa ini.

“Aku kira juga begitu ran, Seperti penemuan dua mayat sebelumnya, sepasang mata itu puas dengan bibir yang tersenyum simpul, senang dengan ulahnya” serunya dengan memandang tajam ke jasad wanita itu dan juga sambil membenarkan posisi kaca matanya yang turun kembali.

Aku tetap sibuk memotret-motret sekitar, sampai lama, ahirnya setelah di lakukan olah TKP penduduk mulai kembali kerumah masing masing dengan gerutuan mereka yang tak karuan. Dan jasad itupun di bungkus di masukan ke dalam ambunlance dan pergi dengan suara sirinenya.

Post next lanjutan spekulasi ini ya teman yang akan mengungkap siapa pembunuhnya, teman-teman juga boleh berspekulasi dalam komen 😀 Are tou the next indiana jones 😀

pahlawan yang terlupakan, sejarah pilu
biografi (alm) mbah surip
cara hidup bahagia ialah tidak cepat lupa tetapi cepat melupakan “daur ulang”
SBY Beri Pemprov Riau Waktu Tiga Pekan “bencana di riau”
cara membuat potensi hidup
apa yang perlu di takutkan dari perempuan cantik?
apa beda, Suka, Cinta, Sayang sih,,?
aku tak pernah mendapat apa yang aku suka!
selamat malam
sesak dalam sesal” cara mengatasi rasa sesal
“apa itu idealis? pengertian idealis. dan sifat orang idealis
menjadi orang yang realistis!
pentingnya menjaga kepercayaan orang lain!
dari mana asal usul rokok?
antara perasaan dan logika
teman spesial
kutil anak auuuuu 😀
ayo gabung pulsa gratis
cinta itu asik, tapi jangan asik bercinta

Sumber inspirasi: tiga pembunuhan misterius

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s