Kopi Susu “mati membeku”


Setiap aku membuka mata di sudut tuaku ini terbersitkan harapanku yang tak kunjung aku dapat, harapan itu semakin hari semakin mencekik urat nadiku di saat aku melintas di sudut-sidut jalan yang mesti aku lalui. Masih ku ingat kata yang membuatku saat ini masih bertahan hidup,
“tunggu aku jika kau mau, tunggu aku, aku pasti memenuhi janjiku, bukan waktu yang tepat saat ini untuk itu, kau pasti tahu perasaanku sama apa yang kau rasakan padaku saat ini”

Suara dari rintikan hujan juga mengingatkanku dengan kata itu, kau pasti tahu, di saat ia mengatakan sesuatu yang membuatku berharap dan terus bertahan, di saat itu hujan sangan lebat, di sudut rumah tuaku yang sepertinya akan runtuh.

“Ting…tong…ting..tong” bel rumah berbunyi
Aku berlari kecil ke arah koridor depan rumah. Membukakan pintu dengan patahan tangan sok bijak.
“Hay, apa kabar” ucap sosok berjengot berpakaian sebar orange!
“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Ucapku penasaran kepada sosok berjengot, perut buncit dan tersenyum lebar sambil menyodorkan amplom coklat.
“Tolong paraf di sini mbak!.” Ucapnya tergesa berlogat jawa kental, sepertinya ada yang harus di hantar lagi.
“Kok terburu-buru begitu tuan, santai dulu di sini, ngopi-ngopi kalau mau?” aku mengodanya dengan sedikit kedipan mata.
“Ah, mbak ini, saya lagi banyak paket yang harus di kirim, maybee!” Ucap si tua itu
“Ok thank tuan!?” Dengan kedipan mata sebelah kiri

Dia mengaruk-garuknya kepala, di rasa dari mataku terdapat kutu yang sembari tadi kedipan mataku membuatnya meloncat ke rambut si tua itu!

***

Amplop coklat berukiran kembang-kembang terbuka dan membuat jantungku berhenti sapai hampir 5 detik. Dan nafasku memburu menggandeng nafasku yang kembali tersambung.
Apakah aku mimpi.!?
Si joe
Si joe
Si joe
Surat ini di tulisnya 1 tahun yang lalu dan baru di kirimnya sekarang!
Apa yang terjadi sewaktu itu. Apa yang membuatnya sedemikian yang gamblang mengabarkan.
Si joe
Si joe
Si joe
Waktu itu dimana satu tahun ia mengatakan harapan itu, yang membuatku tak jengah melambai, mengandeng sebuah balok dan seutas tali.
Si joe
Si joe
Si joe
Salinan surat kematian, dan hasil visum mengetikan, dia komplikasi gagal ginjal. Air mataku menetes, terkaku di sandaran sofa yang tiba-tiba mengeras, membuat punggungku tersakit hampir saja gelas berisikan kopi susu terlempar ke arah dinding.

“Sekarang hidupmu semakin hancur bukan, dimana aku dulu mengatakan harapan itu vonis dokter sudah mengatakan. aku paling lama bisa hidup hanya satu tahun, aku bukan memberikan harapan palsu, kau bisa hidup dengan harapan itu, tanpaku pula, saat ini, kau juga harus bisa hidup dengan harapan baru, dimana aku menunggumu di sisi kekalku, teruslah tanpa acuh meladeni harapan baruku ini, aku tahu saat ini kau sedang meminum kopi susu kesukaanmu bukan? karna aku tahu, aku hidup tetap di sisimu mendorongmu terus bernafas!”

“harapan bukan berarti kita harus menepatinya dengan itu, melainkan kita memberi harapan itu untuk sesuatu yang lebih”

Iklan

2 thoughts on “Kopi Susu “mati membeku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s