Bandot tua


Bandot tua


Sudah mesti kau tau, ini warna kulit tak kasat, mentah tercaci, tercincang dengan keji.

Hai bandot tua, kau tak punya otak.
Bukan lagi penyesalan psico on death.
Mestinya kau tau, bandot tua.


Melihat tak terkedip, sampai terdorong kecimpung dalam aura panas, cacian hentakan, aku dalam jeruji, aku masih tak tau apa-apa, bandot tua!!!!

Sepertinya kau tak punya kumpulan sisi di otakmu, semua pecah-hamburan sampai kau injak sendiri!!

Bandot tua.
Daging-daging kau korbankan. Demi,
Daging-daging kau korbankan, mesti,
Daging-kaging, kau korbankai, mati.

Bandot tua. Kau ingat? Kau ini apa?
Aku tanya! Apa?

Kau manusia, bukan lagi manusia, kau sama seperti penggigitku di malam hari, berpunya di tepuk tak mati, bandot tua, sudahlah. Ini bukan soal harga, tetapi soal nyawa, bandot tua!!!

“Aku masih kecil, aku lugu, aku butuh ilmu, Bukan butuh nafsu”

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s