Teror


Seperti angin sawah yang tak pernah berhenti, tahu tidak seperti itu aku memperhatikanmu, tapi apa kenyataannya, hanya rokok yang butuh untuk di isi ulang di bakar ulang sampai habis nantinya dan bingung ingin mendapatannya seperti itu di pulau mana.
Seminggu hampir saja berlalu, saat kau pegang tanganku dan kau lepas sewaktu-waktu, seperti pelaut yang harus berteriak-teriak bersorak bersemangatlah kalau tidak kau akan mati.!

Memang benar pembutaan mulai terjadi, apa yang di bilang leluhurku dulu, cinta itu buta, orang buta bercinta. Aku yakin saat pertama, kian hari kian memudar, seperti winter yanng sudah lama di kucek, aku harus bertanya kepada siapa, rupanya tidak ada melainnya kepadaNya.

Kalau memang benar ia gulaku, jadikanlah aku kopi agar gula itu mempunyai rasa khas. Timur-timur yang di gandrungi. Bukan minuman bersoda yang membuat malah kenyang tetepi ahirnya hanya di keluarkan dari cegukan.

Memang kurang lama aku mengasah pisau ini, tetapi asal kau tau! Cinta bukan berapa lama kita berdekatan, melainkan ikatan batin yang seketika tak peduli berapa lama kita dekat, satu tahun-satu abat sekalipun, kalau itu tak ada tak akan bisa.

Kota ini sudah seperti hatiku yang sepi, di gandrungi oleh teror-teror gilamu acap kali membuatku terbelenggu-pilu.

Katakanlah kumau kau jika, iya, aku tak butuh berlama-lama, tapi butuh kepastian untuk berlama-lama nantinya kalau memang kau memang gulaku kataNya.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s