Asam manis


Pandang melemah semakin pudar, meneteskan doktrin kembali bubar dan pergi bersama awan yang ingkar.

Hai iblis!, rupanya kau senantiasa menculik merah-merah ini dan membawanya pergi, kau meminta tebusan? Aku punya apa jika kau sudah mengambilnya dariku? Nuraniku hilang-akal pun juga sepertinya akan hilang.

Bawalah pergi itu, aku tak butuh hati untuk mencintai kota ini, aku hanya butuh mata dan hidung!.
Setidaknya aku bisa memandang dan menghirup aroma pagi dengan ini. Aku sudah tak butuh itu. Bawalah pergi!

Iblis-iblis itu gelimpungan mondar-mandir mencari korban baru yang sudah jatuh satu korban lagi yaitu diriku di kota ini, ia membawa hatiku pergi dan seketika ia hilang bagai bumi menelan-nya.

Sudah, lupakan aku! Bukan sepantasnya, bukan? aku bermimpi bersamamu lagi, impian yang goyah dengan satu dentikan jari, di iringi suara dan tatapan cinta, seketika musnah.
Kota yang di gadang-gadang impiannya serta alam yang menjadi parodinya, heh…!!

Ini dunia memang, bukan mimpi yang mendunia, tapi ingat, hatimu nantinya akan di ambilNya bukan lagi dengan tangan dan rayuan, melainkan hujatan dari sebilah kapak hanya dengan hitungan tak lebih dari satu detik kau musnah.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s