Pengartian


“Bagiku tidak masalah menunggu siapapun, berapa lamapun , selama aku mencintainya.”

Awan pelan-pelan demi warna yang cerah membangunkan setiap paginya yang terbungkus selimut indah juga ramah. Sungguh berharga kasih di banding selimut, kita tetap kedinginan tanpa suatu kasih.
Aku mengasihimu!.

Seretan sapu lidi terdengar memecah hening perkampungan, suara kenari lambat laun mulai menari, asap-asap bakar sampah menyejukan pagi yang indah tidak juga lupa membawa secangkir minuman tanpa soda duduk di depan teras-memandang lepas; auramu melewati tepat di depan kelopak mataku.
Aku mengasihimu!.

Klakson kuda bermesin juga sepeda onta kuno mengisyaratkan pasar yang mulai ramai penghuni pagi pencari nasi, suasana cerah dengan balutan kain, melilit di pelipis kanan-kiri. Sentuhan jemari kutek merah menambah keserasian pagi ricuh akan suara tawar-menawar. Ini sudah pas!, begitu pula hati yang memang tak bisa untuk di lubangi menggunakan bor besi untuk membuat alur kuningan baut yang akan masuk.
Aku mengasihimu!.

Serta suara masjid-masjid sudah memanggil raga yang tetap tertidur untuk bangun, setidaknya membuka mata terlebih dahulu-membuka selimut di lanjut basuhan suci di area wajib tubuh.
Aku mengasihimu.
Aku mengasihimu.
Aku mengasihimu, bangun!

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s