Penunggu “Surat-filsuf”


Kuda betina lahir bukan di lahirkan dari rahim bukan godaan, angka kematianpun juga asam manis di rasa, terkadang sepi sampai sunyi terkadang hambar sampai tersebar; gambang pula pikiranmu.


Aku bukannya bilang, aku awam soal ini, aku awam.
Jangan salah aku mempelajarinya dengan keras bukan sok keras menghujatmu ‘cinta’
Alhasil apa, aku lebih memutuskan MENYERAH bukan pula apa melainkan demi kemenanganku, aku menjadi penunggu balok-balok kayu itu yang senantiasa kau pukulkan kedalam kolbu seperti siraman rohani sang ibu.

Seharusnya kau mengajariku, bukan memberiku parlente kecil yang tak mudah aku percahkan, aku ini pemulung yang menyamar menjadi pengusaha sukses dengan genggaman secarik kertas bertuliskan; aku menyayangimu.

Aku penunggu saat ini, lihat saja jika kau tak peduli ku tunggu aku akan lari bukannya menunggu ketidak pastian yang hambar.

Seharusnya pula kau bilang yang mempunyai masa lalu yang hambar dari awal, aku sudah bilang; itu tak akan terjadi jika kau di peluku. Seolah aku bisa membaca pikirmu. Kau hanya diam seperti lidahmu melekat di gusi.

Mana yang katanya kau juga peduli kepadaku kakak!
Mana yang katanya jangan menghilang, “sepertinya kau yang menghilang” aku hanya diam melakukan apa yang kau lakukan dulu, faktanya apa, kau sama sepertiku bukan? Kau hanya diam tak tahu apa jika ku tak bilang.

Jadi salah siapa, OK salahku!
Aku meminta maafmu kakak.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s