aljabar-filsuf


Kota semakin sempit, hujan sudah mulai berhenti turun, parodinya alam telah lama memudar, sungai-sungai tak lagi mengalir deras, sampai-sampai terkontaminasi dengan komentar, tak hanyal input terbaik manusia saat ini adalah; komentar dan komentar.

Petani berubah menjadi pemulung.
Aku hanya bisa bertanya; Kenapa jakarta bau?
Tikus-tikus mulai membesar ber-kepala anjing!
Sungguh rakus rupanya.

Para daging berlemak memenuhi sosmed pembisnisan, memang dasarnya orang berhasil ia bersifat “mure”
Dari orok sudah di ajarkan.
Bagaimana dengan kita kaum pedalaman?
Hanya bisa mengiba dan bertatap cermin, bukannya cendela dengan halamnan yang luas dan latar yang indah.

Menatap diri sendiri, memperbaiki diri sendiri, bukan hanya uang, tapi juga hati nurani yang di perkembang biakan ke anak cucu-cici

Tapi para kaum yang di atas, mana nuranimu bapak?

Hanya uang yang di kembang biakan, kau pikir itu ayam. Kau pikir pula itu yang kau bawa ke kubur sempitmu, dan kau pikir pula. Itu yang akan menjadi jaminan kau ke alam yang putih nanti?
Pikir!

Pikir bapak!

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

3 thoughts on “aljabar-filsuf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s