Pondok tuah


rayap lukisan

rayap lukisan

Sepertinya akan gagal kali ini, mengapa katanya menusuk hidungku mungkin bau yang menyengat, kata itu seperti bangkai di pingiran kota dan kau pemulungnya, bilik-bilik bambu berdiri tak lagi kokoh, rayap kembali naik karena tak ada air penghadang.

Mungkin aku rayapnya dan kau bilik itu, andai saja hari ini tak hujan, untuk kering-pun cukup lama. mungkin hibernasi di pondok ini, begitu keluar akan ku gerogoti bilik-roboh.

Makanan, kata pasif di kunyah, tidak ada penyaring di pasangnya, dia pengemar kucing yang kerap berlagak kelaparan mencari daging berdua. Sayang sekali daging itu sudah aku makan, “kau mau tulang?” Tanya Spiderman.
Kucing menjawab girang “mau,,,mau,,,mauu.!”
Dasar penyisah!.

“Patas saja kau tak bisa tinggi; konsumsimu saja tanpa elemen, kata-kata bijak yang kau gelontorkan bukan katamu cing.! Itu akan membuatmu semakin terpurukm.” Bentak spiderman.

“Kenapa begitu.?” Tanya si kucing sembari mengaruk-garuk kepalanya.
“Kau begitu kumuh dengan kata-kata yang bukan berasal awal dari hatimu. Ordo hymenoptera.”

Hatimu saja kau tipu, aku tak percaya jika kau pernah mengatakan hal yang kau yakini benar! Parlente kata.
Pondok semakin tua rayap-rayap sudah mulai dewasa, sang punjangga akan merayap masuk pelan mengigit insan; jangan kau kira tidak berbahaya, jangankan darah segar mengucur otak kananmu-pun jatuh ter-terjun.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s