secarik kertas


secarik kertas

secarik kertas

Kardus-kardus di tata, angin memanggil-manggil mengema-ku di sini dengan rasa hampa dan dahaga, bilik-bilik menjadi penghadang terpaan angin yang tajam. Bulu-buku kulit tak ku rasa. “aku menggil ibu”!
“Tenang nak ibu memelukmu!” Ucapan egoibu seperti semburan komodo.
liurnya saja beracun, tapi ku yakin ibuku bukan racun tapi meracuni, meracuni otakku yang pesimis akan hidup menjadi optimis akan hidup.
“Bu terimakasih pelukmu, bagunkan aku bu saat nanti waktu sahur.!”
Bulan suci bagi kami adalah menjual surga! Bagaimana tidak….!!! kami ini adalah pengemis. Tapi jangan pandang kami pesimis kami begini untuk makan teman!.


Daun-daun gugur di pingiran jalan, di terbangkan kendaraan, itu juga menjadi akrap denganku seperti bunga tidur untukku.
Kata ibu; bayangkan nak suara gemuruh mesin dan gesekan ban di aspal itu menjadi sebuah lagu merdu, untuk menhantar tidurmu.

Kardus kardus ditata rapih di sudut kota metropolitan, aku ingin bertanya pada kalian, wahai teman!; kenapa jakarta bau?
Kulit menjadi satu dengan jaket. air kran aku minum tanpa ragu, mungkin kau pikir aku dungu. Jalan-jalan menjadi ramai saat hari libur mungkin kalian teman; sedang asik berlibur, tapi bagi kami tak ada libur, Jika ingin berlibur tentu saja aku bisa tapi aku harus berpuasa.
Lemparan-lemparan koin aku tangkap dengan girang seperti iblis di suguhi perbuatan keji. Kaum bengis!
“Hore kita berhasil” ucap iblis

Jawaban ibu atas pertanyaanku.
Kenapa jakarta bau? Lalu ibu berbisik; karena banyak yang membusuk di jalanan siang dan malam nak.
Aku trima jawabanmu bu!. Aku memang membusuk di jalanan.

Suara ronda tak ada di kota metropolitan ini, ronda saur di ambil alih oleh masjid-masjid besar. Mungkin jika saja aku masih punya rumah di pingiran sebelum di gusur, aku akan mendengar suara saur itu di bulan yang katanya suci.
“Bangun nak bangun sayo saur.!” Ibu berbisik di samping tempat sampah yang menjadi rumahku saat ini.
“Kita saur pakai air putih lagi bu?” Tanyaku tersendu.
“setelah selesai minum tdr lagi ya nak, karena kita hanya bisa makan di mimpi, ibu harap mimpimu makan-makanan yang enak, supaya puasamu kuat ya!” Seru ibu sambil mengelus-elus rambutku yang sudah satu minggu tidak aku keramasi, seketika ibu mencium keningku yang tertutup oleh poni gimbalku.
ibuku tak merasakan bau dari rambutku.
Mungkin ibu sudah mati penciumannya.
Orang yang mendekatku biasanya saja masih berjarak dua meter! seketika menjauhkan jaraknya denganku sambil menutup hidungnya.

Satu pesan untuk negara; ampuni aku pak,,! buk,,! aku sudah kau telanjangi, ampuni aku.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s