Satu bangku telah kosong “Surat untukmu”


Sekian cukup singkat kita saling mengunci tatap, sekian cukup pelik masalah yangkita urai, sekian harapku, sebuah mimpiku di patahkan sinar mentari yang memanggilku untuk bangun. Kini semua sirna, diurai oleh mentari. Aku belum sempat mengatakan bagaimana mendung akan membuat hujan, aku juga belum sempat mengatakan, kata yang di bilang bodoh oleh temanku; cintakulah yang abadi.
Cinta itu abadi jika mati.

Aku tak menyangka kata itu sanggup memukul jatuh wanita tangguh sepertiku, yang setiap hari libur menyisakan waktu untuk meregangkan otot di sore hari. Kata berhenti yang terucap dari bibir hitammu membuatku mual di setiap pagiku, ingus yang menyumbat aliran energi ke otaku, yang membuat pikiranku berjalan semestinya, kini berhenti seketika seakan itu mati.

Satu bangku kosong yang semestinya kau duduk di depanku, pria jangkung! yang kerap menarik pertahianku, kini kau ditelan wanita lain yang lebih menarik dan peduli terhadapmu, andai kau tahu aku belum sempat mengatakan satu hal; aku sangat-sangat mencintaimu.

Aku hanya wanita biasa yang selalu melekatkan batu-batu merah dengan tanah liat, membentuknya menjadi arca berfilosofis.
Aku ini wanita bertailalat di kornea mata yang hilang pandang ketika kau-kacamataku pergi dari hadapanku, yang sudah lama melekat membuat pandangku kabur menjadi cerah. Terimakasih.
hidupku sudah kembali minus tanpa kacamata.


Book PDF new


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s