Hari ini dan kini


Hari ini dan kini

Tadi pagi dan sampai selimutku ku buang. Agar ku tak tertidur menunggu di titik-titik keberangkatanmu, mata ini terasa panas,raga ini terus mengigil. aku inginkan terpisah dengan salam yang indah. Mata semakin kabur pukul delapan pagi.
Terus raga ini mengkaku kedinginan dan mata mengeluarkan air, bukan tangis tapi karena menahan kantuk.
Ucapnya: “ibu, bapak! Assalamualaiku” aku mendengarnya merdu-sekali, ku ingin langit menyaksikannya dan ikut meneteskan air dari mendungnya, angin bertiup, bukan hawa dingin melainkan hawa panas yang membuatku terbakar.

Ragaku berkata lain aku lebih dulu terpejam sebelum menyaksikan dan merasakan di titik-titik keterpisahan kita, sementara, ku tahu kau menangis gigi berkawat.
Balasan tidak ada ketika ku terbangun, terhantarpun tidak, namun di dalam dunia maya ada balasan, yang menjelaskan; mengapa pesanku tak terhantar. Lalu Aku menjawab: iya aku tahu, kau pasti akan dewasa di titik itu, dan kini hanyalah naungan doa yang berbicara. Sampai jumpa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s