Merdeka merah putih ( antitesa )


Suaramu terdengar bapak, ibu, sampai ke puncak ujung negri, aku mengerti bukan ini yang kau mau, kau merdeka dengan penopang kayu satu tahun yang lalu, semakin kau tua semakin kau menguras dahaga.
Ini merdeka, merdeka, dan merdeka bapak negriku dan ibu pertiwiku.

Kaca mata kubuka, terlihat jelas coretan-coretan yang mengambarkan kau telah bebas hari ini, hanya nama dan sebutan saja, merdeka kau merdeka. Kini ku memandang tesa yang seharusnya berbeda, kini semakin tidak terdengar gulatan dan sakitnya di pukul oleh negri sendiri, mereka membisu diam tanpa gema.

Celetuk negri di bandingkan dari sisi nurani, dan nurani membanjiri akal busuk sumsum kuda yang siap di tunggang mewakili negri, tapi dan hanya tapi, kau lemah memperingati, kemerdekaan kisah kolosalmu dan kisah perwujudanmu menjadi negri taring yang kokoh, siap mengoyak perut babi selatan.

Kini ku tau di umur terbalikmu terlihat jelas saling hargai dan saling memenuhi, dan kenbali lagi merah putih merdeka lalu tetap tapi dan hanya tapi;
malam bergulir dengan cepat, pelatuk sang anak kemabli melekat, peluru-peluru berpelatuk siap tarik dan melubangi kepala betinanya, kau mau jadi pemburu? Pemburu domba di savana jinga?. Tanyaku penuh harap

Negri, hanya satu pintaku, hapuskan air mata di plosok ujung dari intisari kita, yang menjadi tameng dan serta unjung tombak penghujat sifu, kini ku tahu memandang tesa, ku tahu kau merdeka tapi dan lagi-lagi tapi, kau tak merdeka. Indonesia

Selamat hari kemerdekaanmu

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s