Abjad


“Dimana dirimu yang mencintai aku sepenuh hati.?” Tanya si wanita. Pria menjawab; “masih di sini, ambilah!,,tolong.!”

Suasana pagi tanpa kata bukan sekedar kata, yang seperti sepatu pantofel di tungangi, kata-kata itu melenguhkanku di sini, membuatku terpuruk, di pukul jatuh oleh fenomena yang salah, lalu tanda-tanda kekecewaan gamblang melewati depan mataku, seketika langsung banjir air asin dari mata, di jilatinya rasa itu sampai habis.
Si pria bertanya, “adakah diriku di hatimu?”
Tanpa jawaban dari wanita.

Rasa asin telah habis.
Hai lebah madu, bagaimana kabar bantalmu, dulu bantal itu asik menemanimu menghapus air liurmu, sekarang seiring berjalannya waktu pemiliknya menjadi dewasa, bantal itu menghapus air matamu di setiap gelap tanpa bintang.
Aku di sini! Untukmu berdiri tegak di antara himpitan rasa ingin tahu, tapi kau tak memberi tahu. Biasa sifat anak kecil yang ingin tahu cenderung berspekulasi tanpa alasan. Namun aku menyakininya, dulu.! Kini ku tahu entah. Beritahu aku tolong.!

Rasa asin itu membuat pulau besar di bantalku juga. Di setiap malamku sendu di isi isakan tangis syahdu. Oh, betapa rindunya diriku tujuh hari nanti kau hilang atau ku yang menghilangkan? Mungkin takdir memberi jarak untuk magnet bertolak utara tak sepadan. Mana diriku hina di hujadi kata. Memang jodoh itu seperti puzle berbentuk sama, bisa di satukan. Tapi gambar tak bisa bersatu. Hai lebah madu, hatiku tetap untukmu entah munkin takdir yang bisa merubahnya, terimakasih sudah bisa tersenyum untukku. Walau hanya foto.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s