Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busono


Suasana perkampungan yang sunyi di pecahkan dengan suara-suara pelan seretan sapu lidi, siulan kenari yang asik menghiasi kendang telinga, serta embun yang menusuk-nusuk sampai masuk ke dalam jaket tebal berwarna coklat. Dengan mata yang masih sayup, suara kendaraan tua mulai lalu-lalang menunjukan aksi heroiknya menemani sang majikan pergi ke pasar.“Ayo Bu, nanti kita kesiangan!.” Ajaku kepada ibu yang masih menyiapkan diri dengan goresan lipstik merah menyala dan balutan tipis bedak, biasa memang Ibuku selalu tampil rapih, untuk pergi ke pasar pun harus tampil rapih dan segar.

“Iya, Git, sebentan!” Jawabnya lirih sambil berkemas barang-barang yang harus di bawa, di masukannya ke dalam tas kecil bergambarkan; Doraemon.

Mesin sepeda tuaku mulai mendengung, tandanya siap untuk menghantar pria remaja yang mulai berjengot ini, serta wanita paruh baya yang setia duduk di jog belakang, yang memberi isyarat seperti ialah tuanya.
Setelah selesai membeli ayam potong untuk bahan dagangan ibuku, tanganya menariku mengajak pergi ke dalam pasar yang menjual beraneka-ragam sayur mayur segar, pastinya kalau yang ini bukan untuk di jual lagi, dengan telunjuk ibu yang mengarah ke tumpukan tomat yang masih banyak.

“Sepertinya, memang orang-orang daerah sini tak menyukai tomat, padahal buah satu ini memiliki kandungan vitamin-vitamin yang sangat baik bagi tubuh” batinku melihat tumpukan tomat yang masih banyak, walau pasar sudah mulai sepi, tandanya sudah banyak yang sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan matahari sudah mulai terik-menyapa pagi ini.
Setelah mendapatkan tomat ibu mencari-cari pak Somat di belah sisi bagian belakang pasar, untuk membei ikan-ikan segar dan juga ini buat sarapan pagi, bukan untuk di perdagangkan.

Penampilan seperti pak Somat ini memang banyak di temui di pasar yang menjual aneka-macam makanan dan hewan segar yang basah, dengan penampilan kumuh, bau amis, dan baju yang ala kadarnya, tapi mereka tetap asik menjajakan dagangannya dengan ramah melayani para pembeli setianya, tak peduli dengan tampang mereka yang kumuh, bau amis, dan juga baju yang mereka kenakan, prinsifnya mereka tetap puas dengan penampilan itu saja dan juta tetap ramah dan baik kepada pembeli.

Tukang-tukang becak sudah mengantri di depan pasar sedari pagi buta untuk mencari rezeki, dan tukang-tukang kuli panggul yang juga sama, dengan tampang kumuh, tapi mereka ramah, kepada; mereka yang di layani menggunakan jasanya.
“Sudah selesai kan, Bu?” Ucapku kepada Ibu yang sepertinya bingung setelah ini mau beli apa lagi.
“Oh, iya Git, sepertinya ini saja, wong di rumah masih banyak bumbu dapurnya, sayuran, dan tempe juga masih ada di kulkas, yauda kita pulang aja,” jawab Ibu.

Lalu aku mendahului ibu menuju pintu keluar depan pasar, dan bermaksud untuk pergi membeli rokok di toko bagian depan pasar, “sedikit antri tak masalah bagiku, inilah Indonesia,” batinku melihat antrian yang lumayan ramai.
Tibalah giliranku mengutarakan maksud kehadiranku, untuk membeli sesuatu, “Ko, Rokok ini satu ya!,” sambil menunjuk salah satu deretan rokok, “11.500 nak.” Ucap penjaga toko itu. “Lantas aku mengeluarkan lembaran uang 10.000 dan 2.000 dari saku celana samping kanan,. “Ini, ko, kembaliannya permen ini saja ya!” Seruku sambil mengambil lima butir permen yang sudah aku hafal harganya, “Terimakasih ya ko!” Seruku dengan anggukan pelan kepada penjaga toko itu “Oh, iya nak, sama-sama” Jawabnya singkat.

Lalu tiba-tiba perhatiku di tarik oleh kerumunan manusia yang berada di warung kopi depan pasar, “Ada apa itu ramai-ramai, mana ibu!” Pikirku, lantas aku bergesa menghampiri kerumunan di depan warung kopi itu, tanganku membelah lautan manusia yang sibuk dengan ocehan-ocehannya masing-masig, tidak aku temukan di kerumunan ini ada sosok paruh baya berlipstik merah menyala, kemana ibu, pikirku panik.

“Intinya Git, Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busono!” tepukan dan bisikan pelan dari belakangku membuatku kaget. Ternyata Ibuku, sambil menenteng barang belanjaan.

“Ayo, kita pulang!,” aku menuruti perintahnya, lalu bergegas menuju parkiran sepeda motorku yang siap kembali menghantar sang majikan pulang, dengan aksi terbaiknya bunyi mesin mendengung, serta gilasan ban di aspal, juga angin yang di buatnya meminggirkan dedaunan di jalan. Suasana pasar sudah mualai sepi, para penghuni sudah mulai kembali bermukim di kediaman masing-masing dan melanjutkan aktivitasnya kembali.

Setiba di rumah, aku masih memikirkan kata-kata ibu tadi Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busono aku mengerti maksudnya, di perjelas dengan kerumunan orang di depan warung kopi tadi menyaksikan, berita pagi di Televisi, kasus korupsi yang mengeret sejumlah nama-nama besar tersangkut. Memang tampang dan pakaian serta dandanan yang rapih menentukan kewibawaan manusia itu, tapi jika masalah hati yang bersih dan baik, tak peduli orang itu kumuh, bau amis, juga penampilan yang ala-kadarnya, tetap orang itu beribawa di dalam hatinya, itulah hati nurani.

Jadi kesimpulannya: perbandingan antara para tikus berdasi, yang telihat gagah dan juga beribawa, dengan penjual ikan yang bau, tukang becak, dan orang-orang berpenampilan apa adanya lainnya, yang mempunyai hati beribawa.


    Sigit irawantoro
    Bondowoso, 26 September 2014

Artikel ini di ikut sertakan dalam: Kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati

Iklan

One thought on “Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s