Kesedihan Merindu


Ada kalanya di saat kita menutup mata hanya ingin, tetesan air mata berhenti, dan ada kalanya disaat kita membuka mata hanya ingin mengenang peristiwa sejarah dan berusaha keras mengukir dalam kerak rongga-rongga otak yang dulu sempat akan kita lupakan.

Kesedihan merindu tak ada duanya di bandingkan kaca yang bertatapan hanya dengan satu sosok pantulan diri. Kini kita lihat sejarah yang ada dalam naungan kesedihan yang amat sangat terhadap sosok lain dalam cerminan diri kita, yang sudah mengubah diri kita, yang telah membawa kita naik dari dasar jurang yang gelap-pekat.

Kini semua tersisir rapih dengan tangan kiri dan tangan kanan mengusap air mata yang terus-terus mengucur seperti pancuran pompa air gunung, kita tak dapat menutupnya hanya dengan menggunakan satu tangan saja.

“Berhentilah menangis kawan, dan jangan usap air matamu, coba tutup lubang pancuran pompa dengan kedua tanganmu, lalu peluk erat Tuhanmu.”

Hanya untukmu teman 🙂


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s