Lagi Dan lagi


Di ujung otak tetap tersimpan dendam yang takan terbalaskan hanya karena kebencian, dari situlah akan sirnah sedikit demi sedikit gumpalan darah. Air mengembuk seperti pagi tadi, tiga pilar pengkokoh tetap di hantam habis oleh satu tokoh; lebah manis.

Lagi-lagi aku termenung di depan teras melambaikan kata yang tidak akan pernah terucap hanya karena diam saja di teras.

    Aku mulai melangkah kecil memasuki jalur kerikil, tanpa alas, tanpa barang ku kemas, telanjang buta tubuhku, ibarat aku tak mempunyai ruh pagi ini.

“Tuntun aku Tuhan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s