Magnasitor Nulipara Tara


Meniup gersang berbalut uban, kumis berjenggot tak kenal kekal. Para pedang-pedang jatuh terhantam, para bambu kumis menghujam. Ikan-ikan kecil kehabisan air, jatuh di hantam terikan bola.

Pisau mata tertuju, menghujam mimpi sebanding.
Terlihat oasis berkeliaran di tubuh yang telah renta menjadi boneka, pahlawan-pahlawan telah terlupa. Sesepuh-sespuh kuburan di bawa.

Apa bedanya dunia dan ilusi, jika yang benar dan nyata menjadi opini? Pahlawan terbengkalai rapuh di gubuknya, menangis diru terbelenggu.

Bapak, buai dia dengan Negara, buai dia dengan Wanita.
Ibu, Buai dia dengan Neraca, bui dia dengan surga dunia.

<

p class=”post-sig”>


“Jangan menjadi Silent Reading. berkomentarlah dengan bijak atas tulisan Adlibidtum yang saya persembahkan untuk kalian pembaca setia.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s