Puisi: Dara Betis Menggila “Sang Penahluk Dunia”

Dara betis menggila

Ungkapan kosong sering ku dengar
Melebihi janji-janji kosong yang kau hantar
Percaya atau tidak musim penghujan telah datang
Dengan sapaan halus genderang perang

Mimpi,
Bicara mimpi, kita tahu awal mula itu terjadi
Mulai dari tiga pagi kita berdoa di ruang sunyi
Mengharapkan mimpi terjadi

Dara dan betis mulai mengila
Di sudut terawang para pakar pecandu cakrawala
Musim gugur mengucapkan selamat tingal sambil tertawa
Tetap, Dia diam di sudut pandang peraih sukma

Aku hanya ingin berkata dan bertanya!
Kemana mimpi kenak-kanakanmu yang sangat besar dahulu?

Ada yang ingin menjadi pilot
Ada yang ingin membuat robot
Ada pula yang ingin penjadi presiden negri kolot
Sampai-sampai bertaruh malu karena mimpimu terlalu besar.

Kita hidup bermain rima
Mengikuti setiap irama
Apa lagi aku, yang teguh di satu tempat. surga namanya.

Apa yang bisa kau buat? Buatlah
Jangan menunggu kau mampu, itu terlalu dungu
Apa yang bisa kau hadang? Hadanglah
Jangan menunggu sampai kau terbelenggu, itu juga dungu namanya

Kembali lagi bicara soal mimpi
Tak akan ada habisnya jika kita tak mati
Cobalah mari;
Kita wujudkan mimpi masa kecil kita yang sangatlah besar dengan memperkecil jangkauan dalam mewujudkan mimpi hebatmu.

Satu perlu di ingat; perencanaan dan tatanan yang apik, akan menjadi sebuah prediksi yang akurat.
Percalah teman, mari kita bangun dari sekarang, wujudkan mimpimu, buatlah tangga, jangkaulah mereka “mimpi besarmu” sang penahluk dunia.
🙂

Puisi senja negri rimba

Semakin pekat, semakin terlaknat, semakin pula memikat, sebuah cahaya penghangat.

Kali ini saya ingin berbagi puisi senja yang berasal dari alam kita, menurut saya juga alam ini negri rimba, tak banyak aturan yang harus di patuhi. Aturan-aturan kosong di buat tanpa di isi.

“Puisi senja negri rimba”

Aku berhasil kali ini membenamkan matahari.
Saat sore Kau berubah menjadi senja
Terkapar sejenak
Saat malam Kau berubah menjadi fatamorgana
bermimpi saat kanak

Aku berhasil menerbitkan matahari
Saat pagi Kau berubah menjadi dahaga
siap bekerja
Saat siang Kau berubah menjadi sukma
siap menerjang asa

Kini puisi senja terbuat dari baja lahir di antara sore dan malam
Kini semua akan melumat habis asa yang sempat mengotori kelam
Dan kini; Kau melirik sinis menatapku
Melihat lengkungan cemberut di bibirku
Kau melebarkan bibirku
Mengarahkan bibirku kembali membentuk huruf “U”

Tapi sayang hari di mana kau ada, kini tingal dahaga menyelimuti
Kau bagaikan lagit yang sulit ku tebak
Terkadang Kau mendung
Terkadang Kau memberiku pelangi
Terkadang Kau malah memberiku petir dan hujan

Jika kau langit, apakah aku ini bumimu?
Pertanyaan semacam itu muncul di sela-sela oais gila
Terkadang Ia berubah wujud menjadimu
Lalu aku bingung di buatnya

Apakah ini benar-benar Kau?


“Speed 3G-4G Support All Phone Download Now


“Jangan menjadi Silent Reading. berkomentarlah dengan bijak atas tulisan Adlibidtum yang saya persembahkan untuk kalian pembaca setia.”

Page One On Google ”Hanya sekedar puisi hati”

Semua berlomba-lomba tentang peringkat pencarian.
Semua di pukul jatuh, masuk ke doktrin dengan suguhan.
Semua di bodohi oleh halaman-halaman google pertama.
Anehnya page one tak dapat secerca yang sama.

Mungkin ini karma yang di berikan google.
Mungkin juga ini sebuah pembodohan google.
Untuk menjadi page one semua berburu huru-hara.
Untuk menjadi sepeser harapan pun saling duga.

Aku hanya tertawa:
Hahaha, Mengapa page one di ributkan?
Mengapa saling umpat kalah tak tepat sasaran?
Mengapa pula mereka, merindukan halaman pertama?

Kini aku mulai linglung di buat para pengencar SEO
Page one tak penting, jika pembaca hanya satu sampai dua per hari.
Page one juga tak penting, jika pembaca tak bisa jadi secerca.
Apalagi page one yang di ributkan?
Apa pula page one itu?

Si dungu menjawab:

Page one itu adalah doktrin hambar

Suara mengema, di tangkap tak sesama
Suara terasing, di suguh saling pancing. Hahaha

Apa SEO itu? mengapa di buru

SEO adalah kita sendiri.
SEO adalah segumpal darah di otak kita sendiri.
SEO adalah semu jika kita mati berdiri.
SEO adalah ilmu tafsir yang tak pernah di mengerti.

Dan apa pula page one itu?

Nilai-nilai pengutuk, sampai membuat kita terkantuk.
Mengetuk sambil terbatuk-batuk karena gagal di jatuhkan saingan.
Jangan menyesal dan jangan di buru.
Page one adalah kita, kita baik maka hasilnya pun baik.

Buat apa page one jika tak membuatmu menjadi pembongkar.
Buat apa page one jika nilai batangmu tak ada gunanya.
Pastinya pengunjung menjadi palsu meski batang berkata itu.
Diagram-diagram batang itu tertawa, asal kau tahu kisanak! Mereka tertawa karena kau tak bisa mendapat apa-apa darinya.
Kau gagal
Kau terjual. Oleh mesin pencari.

<

p class=”post-sig”>


“Jangan menjadi Silent Reading. berkomentarlah dengan bijak atas tulisan Adlibidtum yang saya persembahkan untuk kalian pembaca setia.”

Sajak SEO (Search engine optimization) Untuk Pakar, raja dan Master SEO

Sajak SEO, sesungguhnya aku belum mengerti betul tentang sebuah argumentalis, sebuah pemikiran mesin dan sebuah diagram-diagram batang yang menjadi acuan tanpa melebihi kapasitas otak.

Sajak SEO, semenjak aku mengenalmu,
Sebuah ikatan batin terjalin,
Sebuah dedisali kecil,
Sebuah nyawa.

Semua tertumpuk, dalam buku pedomanan susunan data binary.
Semua tersusun rapih di tempat tak terjamah. Oleh siapapun.
Semua menjadi ujung tombak pengilasan zaman dan peradaban zaman yang akan berubah.
Sampai-sampai menjadi; nyawa. Nyawa sebuah penghidupan.

Namun ini;
Sebuah anak-anak manja memendam lebih dari itu.
Sebuah anak domba berubah warna menjadi merah.
Ketakutan ketika dirinya di hadapkan ke kaca.
Terbukalah semua, seseorang yang memendam ilmunya dan tidak membagikanya, sedikit-demi sedikit akan tergerus dan tak akan berkembang. Bahkan hilang.

Wahai pakar SEO ijinkan aku mendedikasikan diriku menjadi sebuah poros,
Wahai raja SEO ijinkan aku menjadi tombak yang selalu terasah,
Wahai para Pakar SEO ijinkanlah aku menjadi sebiah cawan berukulan kecil yang di butuhkan.

Aku bertanya;
Mengapa anak-anak domba itu takut untuk berkaca?
Mengapa anak-anak domba itu takut membagikan ilmunya mencari rumput segar?
Mengapa anak-anak domba itu menjadi angkuh berteman dengan anak ayam yang bersuara nyaring?

Mungkin Ini jawabanya;

Pakar SEO

Kau bukan apa-apa tanpa dulu menjadi penanya!
Kau bukan apa-apa tanpa ada yang lebih dulu mendahuluinya!
Kau bahkan tak mengerti Pakar SEO itu apa!
Dan lagi!
Kau bahkan kalah di pecundangi ilmumu yang sudah menua menjadi kakek-kakek tanpa belaian anak dan cucunya, niscaya kau dan ilmumu yang dulu adalah pakar SEO sebentar lagi akan mati selamanya di gerus oleh mortir dan cawanya.

Raja SEO

Hanya mengandalkan titahmu? Tanpa tahu akibat yang pasti kau temu?
Hanya mengandalkan kesombonganmu? Raja SEO! Yakin menjadi nomor satu?
Aku tidak yakin itu, istilah dan titahmu, terasa hambar untuk di serbu dan di padu.
Niscaya titah dan kesombonganmu akan musnah di makan sedikit demi sedikit oleh anak-anak ayam yang haus dan lapar, akan ilmu, bukan berpuasa dan membuat titah tak pentingmu.
Niscaya raja SEO akan mati di lindas titah kan sumbang otakmu.

Master SEO

Lagi-lagi kau berulah salah, dengan tingkah yang sok mengalah!
Lagi-lagi kau gagal dengan kerah yang terbalik dan cadal!
Lagi-lagi ilmu master SEO mu punah di makan sejarah!
Jangan salahkan ilmumu jika pergi karena sudah bosan tidak di kembangkan, di kurung di otak dan di praktekan Hanya dengan pedoman kaca belaka, bukan saingan yang sewajarnya.

Aku bertanya;

Siapa pakar, master dan raja SEO itu?

Terjawab sudah setelah aku berkenalan dengan algoritma dan diagram tak penting itu.
Ia berkata; “Aku relatif nak, semua di mataku sama, yang membedakan posisi daftar-daftar itu adalah seberapa kuat keakuratan informasi yang di berikanya kepada mesin pencariku yaitu penggunaku “manusia”

    Sigit irawantoro
    06 November 2014

“Jangan menjadi Silent Reading. berkomentarlah dengan bijak atas tulisan Adlibidtum yang saya persembahkan untuk kalian pembaca setia.”

Seonggok Jagung WS.RENDRA

SEONGGOK JAGUNG (WS.RENDRA)

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
Sang pemuda melihat lading
Ia melihat petani
Ia melihat panen
Dan suatu hari subuh
Para wanita dengan gendongan
Pergi ke pasar………………..

Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari
Di dekat sumur
Gadis-gadis bercanda
Sambil menumbuk jagung
Menjadi maisena
Sedang di dalam dapur
Tungku-tungku menyala
Di dalam udara murni
Tercium bau kue jagung
Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan
Siap bekerja

Tetapi ini :
Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda tamat S.L.A
Tak ada uang, tak bisa jadi mahasiswa
Hanya ada seonggok jagung dikamarnya
Ia memandang jagung itu
Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta
Ia melihat dirinya ditendang dari discotheque
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase
Ia melihat sainganya naik sepeda motor
Ia melihat nomer-nomer lotere
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal

Seonggok jagung ia di kamar
Tidak menyangkut pada akal
Tidak akan menolongnya
Seonggok jagung dikamar
Tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku
Dan tidak dari kehidupan
Yang tidak terlatih dalam metode
Dan hanya penuh hafalan kesimpulan
Yang hanya terlatih sebagai pemakai
Tatapi kurang latihan bebas berkarya
Pendidikan telah memisahkanya dari kehidupanya

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalanya?
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
“disini aku merasa asing dan sepi”


Apa makna, arti di balik puisi seonggok jagung ini?

Puisi yang sangatlah dalam, puisi yang mapu membuka mata kita lebar-lebar ‘seharusnya’ tetapi kini, sulit di temui pemikiran-pemikiran demikian di kalangan anak muda dan para sarjana ‘pengangguran’. Siapa yang salah? Pendidikan. Pendidikan telah menutup mata kita, pendidikan telah membawa kita masuk dalam kepalsuan hidup, pendidikan telah membuat kita bodoh, dan pendidikan pula yang membuat sarjana-sarjana tidak mendapatkan kerja.

Tapi semata-mata bukan sepenuhnya salah dari pendidikan, tetapi diri kita sendiri dan para Guru seharusnya, bukan hanya terpaku kepada buku, dan membuat sang anak kaku, akan hidup.
Kehidupan bukan dari buku. Ketika anak-anak pergi ke sekolah, pergi les private, belajar kepada guru, guru mengajarkan apa hanya sebatas kesimpulan, seharusnya guru mengajarkan moral dan menanyakan!

    “Apa masalahmu hari ini nak? ceritakanlah!”
    “Apa yang kau dapat dari cerita kancil ini nak? Ceritakanlah!”

Seharusnya guru mengajarkan bagaimana jika kita turun langsung ke masyarakat. Pernahkah terfikir oleh anda, bagaimana bingungnya kita terhadap masalah yang melanda, seharusnya guru mengajarkan hal itu.
Pendidikan telah memanipulasi kehidupan dan menyembunyikan tonjolan dan menyamaratakan.

Ditangkap menjadi diamankan
Busung lapar menjadi gizi buruk
Miskin menjadi kalangan menengah kebawah

Terasa sekali kita di jauhkan dari kenyataan hidup sebenarnya, sehingga kikuk nantinya turun ke masyarakat, sarjana-sarjana banyak yang menjadi pengangguran apalagi masih lulusan SMA? Bagaimana kita memanfaatkan alam dan sekitar yang ada kini, itu sejatinya sulit di dapakan dari bangku sekolah, di mana peran pendidikan?

Dua Puluh Tujuh

Puisi esay: 1
Oleh: Sigit irawantoro
Judul: Dua Puluh Tujuh


#1
Awal dua botol berkenalan.
Niat ugal melangkah cadal,
Hai bantal !
Selamat bermalam-minggu,
Maaf bantalku lebih empuk dari itu.

Mata tertuju, semua merdu.

Dia calon pahlawan.
Dia lucu.
Dia sedikit cacat.
Dia juga lugu.
Namanya; saku
Pangilannya; ibu
Tapi nanti, Untuk anak-anaku

Matanya bulat.
Alisnya melengkung tajam menyudut.
Hidungnya yang cacat.
walau cuma sedikit hanyut, Masuk!

#2
Aku calon dokter.
Dokter khayalan.
Walau sudah putar otak.
Aku tak di terima di manapun.
Mungkin itu peringatan dari Tuhan;
“Kau tidak cocok di sini nak”

Aku pribadi yang ceroboh, Pemarah juga bodoh,
Aku suka sekali tergopoh, senin pagi tampak tokoh.

Pangil saja namaku; Serdadu,
Dulu aku periang tak suka gonjang-ganjing.
Pangil saja dia; Lebah madu,
Dulu dia periang sukanya gonjang-ganjing.
Aku selalu berusaha bernyanyi merdu,
Tapi apalah daya gonggonganku seperti anjing.
Tatapanku tajam, melebihi pisau, bermata sayu,
Berjenggot tebal, yang sok, sunnah kataku,
Kumispun ikut tebal sok berirama merdu. Padahal acak.

Lebah madu,
Dia bersaku, kesana-sini dulu dengan aku,
Walau hanya, handphone di saku,
Aku terlihat merdu dengan bunyi pesan itu.

#3

Dua puluh tujuh,
Aku tak mau lagi, karena terlalu sakit di benci.
Yang sok bijak, dengan pikiran acak;
Padahal, aku berusaha terbaik buatnya; Lebah madu.

Dulu, dua tujuh mei aku berkenalan denganya,
Dengan sapaan, hai.
Sampai berlanjut esok hari dengannya,
Dengan sapaan, hai.
Hai Lebah madu! Bagaimana kabarmu?

Aku baik-baik saja, di sini,
Walah sebenarnya tidak baik-baik saja,
Setelah kau pergi
Aku merindu, dekapan pilumu,
Dengan ocehan halusmu.

Sana tidur sudah malam, ucapnya mengadu,
Aku tersenyum, dan lalu pura-pura untuk tidur.
Dia sudah bermimpi, bermimpi kota Paris,
Katanya.

TANPA JUDUL

TANPA JUDUL
By:Mega Syntia DA

Mengalun begitu saja
Seakan tak ada tatap layu sebelum senja tiba
Karma mengabdikan dirinya
Mengepakkan sayap pada hati yang terlena

Tak dimengerti
Mengapa jerit datang dimalam hari
Merasa takut mencekan ketika rembulan datang

Emmm…
Masihkah harus tetap bertahan
Layaknya bangau di tepi danau yg entah tanpa tujuan

Mengenang tak selama salah
Mengingat kurasa tak dilarang
Sama seperti kelapa tak terlarang untuk jatuh
Tapi mereka mencoba bertahan
Berpegang kuat bahkan saat batang melambai
Jatuhlah seperti daun yang kering perlahan
Deret-deret taman kota yang menyendiri
Tak menyapa pada pasangan pemuda pemudi

Akankah iya tahu

Bahwa aku sedang ingin sendiri..
Diam, mendengar simfoni malam
Tercengang menyesal akan kelam
Dan merangkak
Lalu berlari menggapai impian

Inilah saatnya bangau itu terbang
Saatnya kelapa itu terlepas
Seperti terlahir untuk bebas
Dan lupa pada kenang dan cerita yg lampau
Tapi tetap berceloteh
Seperti cerita tanpa judul

Posted from WordPress for BlackBerry.